Apa yang kurang dari VSI & kawan2 yg menjalaninya, dari sisi spiritualitas, itu justru jadi lahan dakwah kawan2 smua. Hendaknya selalu positif. Kawan2 e-miracle, secara spiritualitas udah bagus. Sebab basicnya emang 5Pilar. Ihyaa-us-sunnah. Menghidupkan sunnah.
Segmentasi dakwah, harus diperlebar. Mereka yg hanya cari duit, pun harus didekati. Tar malah didekati yg lain. Lalu beri muatan positif.
Saya senang fiqh/manhaj dakwah begini. Seperti saya tetep datang ke Slank. Malah saya yg bisa belajar banyak tentang kesederhanaan & apa adanya.
Di VSI, hadiah mobil2 yg bertaburan, +bonus2 "dunia" berupa smartphone, tour ke singapore, eropa, income jutaan/bulan, toh kawan2 kemudian liat, saya masukin kuliah online gratis, berupa Coachingbisnis gratis. Yg isinya full spiritual/hal2 religi. Pelan2, diajak bukan hanya mengejar, mengumpulkan, & mencintai dunia. Tp mulai diperkenalkan kepada Allah SWT, Rasul-Nya, agama-Nya...
Yang belakangan bakal digeber, adalah program Free-Coaching-Tahfidzonline untuk VSI, dengan surah khusus, Tabaarok.
e-Miracle mah dah khatam malah lebih dari 4 surat. Kawan2 yg merupakan pencari kerja asli, pencari rizki asli, di vsi, mulai diajak masuk. Walhasil, yg namanya dakwah itu, memang perlu proses. Jika harus masuk dari pintu rumah mereka, masuklah dari pintu itu, yg sopan. Kalo sudah diterima dengan baik, sudah bersahabat, berkeluarga, ngomong dakwahpun, akan jadi masuk. Siapa juga sih yg ga mau diajak menuju kebaikan. Pastinya mau. Ini semua soal cara, pendekatan, & konsistensi ajakan itu sendiri.
Saya menyenangi sangat e-miracle. Sebab dari awal orang masuk e-Miracle, rata2 udah dengan niatan dakwah & memperbaiki diri. Mudah2an lewat VSI, siapa2 yg belum bisa diajak lewat e-miracle, bisa kemudian 1 sisi. Bukan hanya mencari rizki, tp jg mencari Allah SWT, Pemiliknya.
Dakwah model begini, perlu pendekatan kebudayaan, kultural, persahabatan, yg ga serta merta. Seperti syetan juga, yg datang pelan2. Bahkan kadang kita kudu belajar dari strategi "dakwah" di luar Islam. Kayak apa? Mereka kadang membidik bukan bapaknya. Tp anak2nya. Masa depan. Atau tidak sedikit mereka yg membidik bukan saat hidup gagahnya. Tp membidik ujung kehidupan seorang manusia, saat sakratul mautnya. Di saat gagahnya ga bisa didekati, beresiko didekati, saat sakratul mautnya justru bisa jadi golden momen pindah aqidah. Segitu sabarnya, hingga strateginya bukan cerita tuntas dalam 10, 20, 30hr. Tp dalam 10, 20, 30 tahun. Beda sekali dgn kebanyakan qt (Indonesia).
Dlm mendidik anak2 & santri, saya kerap memakai strategi pendekatan hati. Dapetin hati anak2, dapetin kliknya. Hasinya? Bakal wow.
Apa aja perlu sabar & disabarin. Termasuk dalam urusan dakwah. Tantangannya makin berat. Apalagi di suasana hedonis, materialistis, kayak sekarang.
No comments:
Post a Comment